Harga Tembaga Diramal Rekor, Deretan Emiten Ini Dapat Durian Runtuh

Jakarta, CNBC Indonesia – Tembaga diprediksi akan mengalami kenaikan harga lebih dari 75% dalam dua tahun ke depan, seiring dengan gangguan pasokan tambang yang bersamaan dengan peningkatan permintaan untuk logam tersebut. Sentimen ini diperkirakan dapat menjadi angin segar untuk saham tembaga yang terdapat di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Harga rata-rata tahunan tembaga menunjukkan adanya tren penurunan, setelah memuncak pada 2021. Data Refinitiv menunjukkan harga rata-rata 2021 mencapai US$9.319. Kendati demikian, harga rata-rata tembaga harus terkoreksi pada dua tahun setelahnya, meski masih lebih tinggi dibanding 2021.

Namun, adanya harapan rebound-nya permintaan pada tahun ini dan tahun depan menyebabkan potensi saham tembaga dapat kembali dilirik investor. 

Terdapat beberapa tipe saham yang terkait dengan tembaga di bursa yaitu yang melakukan ekstraksi atau pengerukan tembaga dari alam serta yang menjual dalam bentuk kabel.

Saham yang bergerak di bidang ekstraksi tembaga diantaranya adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Sedangkan, saham yang bergerak di bidang kabel diantaranya ialah PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk (SCCO) dan KMI Wire & Cable Tbk (KBLI). 

Namun, kinerja saham yang bergerak di sektor pertambangan tembaga tidak menunjukkan korelasi yang kuat dengan laba bersihnya. Hal ini disebabkan oleh perusahaan pertambangan tembaga juga mendiversifikasi komoditas lainnya untuk dijual. 

Persoalan ini bukan berarti kenaikan atau penurunan harga komoditas tembaga tidak mempengaruhi harga, melainkan kontribusi komoditas tembaga bukan 100% sumber pendapatan perusahaan. 

Tentunya, semakin tinggi harga komoditas tembaga, perusahaan pemilik tambang akan turut menikmati keuntungan layaknya perusahaan komoditas lainnya. 

Sentimen Penggerak Harga Tembaga

Permintaan yang terus meningkat sebagai dampak dari transisi energi hijau dan penurunan kekuatan dolar Amerika Serikat pada paruh kedua tahun 2024 akan menjadi dorongan untuk kenaikan harga tembaga.

Menurut laporan dari BMI, unit penelitian Fitch Solutions, permintaan yang meningkat sebagai hasil dari transisi energi hijau dan kemungkinan penurunan nilai dolar AS di paruh kedua tahun 2024 akan mendorong kenaikan harga tembaga.

Para analis pasar mempercayai bahwa langkah bank sentral Amerika Serikat untuk menurunkan suku bunga tahun ini akan melemahkan dolar dan membuat tembaga yang dihargai dalam dolar lebih menarik bagi pembeli asing.

“Pandangan positif terhadap tembaga lebih didasarkan pada faktor-faktor makro,” kata Matty Zhao, Kepala Bahan Baku Asia-Pasifik di Bank of America Securities kepada CNBC International, merujuk pada kemungkinan pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve AS dan pelemahan dolar AS.

Selain itu, dalam konferensi perubahan iklim COP28 bulan lalu, lebih dari 60 negara mendukung rencana untuk menggandakan kapasitas energi terbarukan global pada tahun 2030, sebuah langkah yang menurut Citibank “akan sangat mendukung tembaga.”

Dalam laporan Desember, bank investasi tersebut memperkirakan bahwa target energi terbarukan yang lebih tinggi akan meningkatkan permintaan tembaga sebesar 4,2 juta ton tambahan pada tahun 2030.

“Hal ini diasumsikan dengan kondisi ekonomi AS dan Eropa yang relatif stabil, pemulihan pertumbuhan global lebih awal, dan kelonggaran signifikan di Cina,” kata analis Citibank, seraya menekankan investasi berkelanjutan di sektor transisi energi.

Ekonomi yang tumbuh cenderung meningkatkan permintaan tembaga, yang digunakan dalam peralatan listrik dan mesin industri. Permintaan logam ini dianggap sebagai proxy untuk kesehatan ekonomi.

Pasokan Rendah, Permintaan Tinggi

Melansir Refinitiv, tembaga di London Metal Exchange terakhir diperdagangkan seharga US$8.440 per ton pada Selasa (2/1/2024). Logam dasar ini banyak digunakan dalam ekosistem transisi energi dan sangat penting dalam pembuatan kendaraan listrik, jaringan listrik, dan turbin angin.

Beberapa analis melihat adanya peluang kenaikan harga tembaga karena gangguan pasokan tambang, dengan Goldman Sachs memperkirakan defisit lebih dari setengah juta ton pada tahun 2024. Pada November lalu, First Quantum Minerals menghentikan produksi di Cobre Panamá, salah satu tambang tembaga terbesar di dunia, menyusul putusan Mahkamah Agung dan protes nasional terkait kekhawatiran lingkungan.

Anglo American, produsen utama, mengumumkan pemangkasan produksi tembaga pada tahun 2024 dan 2025 sebagai bagian dari upaya penghematan biaya.

“Kami yakin bahwa pasar tembaga akan mengalami periode yang lebih jelas untuk mengencangkan pasokan,” tulis analis Goldman Sachs, yang memperkirakan harga tembaga kembali mencapai US$10.000 per ton tahun ini, dan jauh lebih tinggi pada tahun 2025.

Dua negara yang mendapat manfaat dari lonjakan harga tembaga terutama akan berasal dari Chili dan Peru, menurut perkiraan BMI. Kedua negara ini memiliki cadangan besar mineral transisi hijau seperti lithium dan tembaga dari peningkatan investasi dan permintaan ekspor yang lebih tinggi. Sebagai informasi, Chili memiliki sekitar 21% cadangan tembaga global.

Goldman Sachs memperkirakan bahwa harga tembaga secara substansial akan naik hingga 2025 mencapai rata-rata US$ 15.000 per ton, lebih tinggi dari rekornya yang mencapai US$ 11.299 per ton pada 18 Oktober 2021 lalu.

Pasokan yang rendah juga berarti bahwa pabrik pemurnian tembaga baru yang mulai beroperasi akan mengalami kekurangan konsentrat untuk diolah.

Pabrik pemurnian tembaga akan mengalami kekurangan pasokan konsentrat mulai tahun 2024, dan defisit pada pasar konsentrat diperkirakan akan semakin dalam pada tahun 2025-2027 menurut pernyataan Wang Ruilin, Analis Tembaga Senior di S&P Global, melalui email kepada CNBC International. https://roketgubuk.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*